Clurit Paman
Entah mengapa
dan kemana paman akan pergi pagi itu. Dia pun tidak berpamitan. Lelaki paruh
baya itu sudah pendiam sejak aku mengenalnya. Terlebih bila berurusan dengan
ayah. padahal setahuku ayahlah yang menyelamatkannya dari menggelandang karena
ludesnya harta yang ia pertaruh kan di meja perjudian. Tapi ketika berhadapan dengan ibu tingkah
paman berbeda. Coba tanyakan pada dirimu mana mungkin seorang saudara bertindak
lebih sopan pada iparnya dari pada kandungnya sendiri. Mungkin ada peristiwa
yang terjadi ketika aku masih dalam rahim.
Belum
begitu lama semenjak paman pergi, ayah muncul dari balik pintu. Dia duduk di
kursi teras dengan secangkir kopi dan koran yang baru saja dilempar oleh
lopernya. Saat itu hari minggu. Ayah
tidak masuk kerja begitu juga aku. Hari
yang baik untuk keluarga kecil kami bercengkerama. Segera ku hampiri ayah dan
duduk di sampingnya. Aku diam menikmati kebersaman kami bersama keheningan itu
sendiri.
“
‘Nak pergi kemana pamanmu tadi?” Tanya ayah menghamburkan santaiku.
“
Entahlah ayah! ayah tahu sendirikan, sifat paman.”
“
Tapi biasanya dia mau berbicara denganmu.”
“
Benar! Tapi jika aku yang tanya.” Lenguhku menyusul.
"
oh ya yah mungkin saja paman mau pergi ke pandai besi.” Tambahku
“
mengapa kamu berpikir demikian?”
“
sebab tadi aku lihat paman membawa sebilah clurit.” Tiba tiba wajah ayah
berubah pucat. Tak lama hanya beberapa mikro detik. Wajahnya kembali teduh
seperti biasanya.
***
Aku
pernah datang kerumah kakek beberapa hari setelah hari itu. Aku penasaran akan
kejadian yang tersekat oleh tirai waktu antara paman dan ayah. Rumah kakek
tidak begitu jauh sekitar setengah kilometer. Ke barat utara dari rumahku. Jika
ada rumah di kanan jalan bercat putih dengan bunga-bunga di teras dan pohon
mangga yang lebat meneduhkan maka itulah rumah kakek, nenek dan bibi yang
seumuran denganku.
Ketika
aku datang kudapati bibi yang tengah membersihkan teras.
“ Bibi!”
panggilku. Seketika ia melototiku.
“ Bocah ini!”
giginya bergerutuk. “ bukankah sudah kubilang jangan panggil aku bibi.” dia
selalu marah ketika ku panggil begitu. Dan wajahnya yang cantik itu akan
menjadi sangat mengerikan bagiku.
“ Baiklah
Baiklah. Aku minta maaf… mbak!” kataku dengan menekankan kata ‘mbak’.
“ Nah begitu
kan enak di dengar. Ada urusan apa?”
“ Nggak
apa-apa kok mbak, mau main saja. Kakek ada?”
“ Ada tuh
di dalam lagi sarapan. Kamu sarapan juga sana.” Tanpa mejawab aku meloncat ke
dapur mencari kakek. Aku menemukannya dengan piring kosong yang berlekatan sisa
sisa nasi dan bercak bercak santan. Kurasa kedatanganku tepat waktu ketika
kakek sudah selesai. Jika bukan karena bibi pasti aku harus menunggu kakek
untuk beberapa saat.
“ Ah kamu to
le ada apa? Kok tumben.” Aku menyesap napas dalam demi mengumpulkan
keberanian untuk mengatakan hal ini.
“ Aku ingin
menanyakan apa yang terjadi pada ayah dan paman. Mengapa paman tampak begitu
benci pada ayah. padahal secara kasat mata ayahlah yang membuat paman tidak
menggelandang.” Kakek pun kudapati menyesap udara dalam dalam. Mungkin untuk
mengumpulkan keberanian juga.
“ sebenarnya…”
kakek mulai bercerita.
***
Matahari
terik menguras tenggorokanku. Kering kerontang seperti tanah lapang yang
kemarau di seberang sana. Pagi tadi paman melewati tanah lapang itu. Mungkin
untuk mengambil clurit yang tempo hari ia serahkan untuk di tempa. Sudah lima
jam sejak kepergiannya. Aku jadi ingat akan cerita kakek beberapa hari silam.
Aku takut apa yang kakek khawatirkan akan terjadi. Bahwa clurit itu adalah alat
yang akan digunakan untuk membunuh ayah karena beliau telah merebut ibuku dari
pelukan paman sebelum menikah dengan ayah.
Kisah
sebenarnya bukan ayah merebut ibu dari paman. Tapi kakeklah yang tanpa sengaja
menjodohkan ayah dengan ibu. Tapi kakek juga tidak dapat disalahkan. Ayah
membuat kesalahan yang tak disengaja karena telah menjodohkan paman dengan bibi
yang pada akhirnya lenyap karena saran ayah untuk menjadi TKI dinegeri aktor
kegemaranku Jackie chan. Entah siapa yang dapat di salahkan. Segalanya terjadi
tanpa perhitungan. Dan aku pun tidak mengerti mana diantara kedua hal itu yang
membuat paman begitu membenci ayah. Mungkin kejadian kedua.
Adzan
ashar sudah berkumandang. Tanpa terasa sudah berjam jam aku duduk di tempat ini
sambil mengingat setiap lajur kisah yang diceritakan kakek. Ayah baru saja
datang dia sedang mandi sekarang. Paman belum pulang entah sedang di mana dia,
kau tahu sendiri ‘kan kebiasaannya. Tapi setidaknya aku lega karena kepergian
paman bukan untuk menjemput kematian ayah. Aku tersenyum, bahagia.
Telepon
genggamku berdering. Lagu bengawan solo mengalun di sana. Aku lihat sejenak
siapa yang menelepon.
“
halo nenek ! Ada apa?” aku hanya mendengar isakan di seberang sana. Samar samar
aku dengar nenek menyerahkan telepon pada orang lain dan mengatakan tidak
sanggup memberitakan hal buruk yang entah apa itu padaku.
“
Kamu tabah ya!” suara seorang wanita mungkin tetangganya. apa tabah? Apa yang
terjadi mengapa aku harus tabah?. Bulu tengkukku berdiri. Darahku berdesir.
“
m-memang a…ada apa? Bu?” tanyaku terbata.
“
bibimu meninggal ‘nak. Silvi meninggal dibunuh Dodik, pamanmu.” Tubuhku kaku.
Di seberang nenek memarahi orang itu yang memberitahuku dengan cara yang
sedemikian. Tapi suara itu semakin senyap HP ku terjatuh, tercerai berai. Tiba
tiba aku ingat ucapan kakek tempo hari. “ Bibi( istri paman)mu itu mirip sekali
dengan bibimu, Silvi.”
Anonim
Blokagung, 10/10/2014
01.19
Unknown
0 komentar :
Posting Komentar